Rembug Stunting Desa Kramat: Perkuat Evaluasi dan Kolaborasi Lintas Sektor

10 April 2026 10:04:35

Kramat, Kudus - Pemerintah Desa Kramat menggelar kegiatan Rembug Stunting pada Kamis (9/4) bertempat di Sekretariat Karang Taruna Kabupaten Kudus. Kegiatan ini dihadiri oleh Plt. Camat Kota Kudus, Bapak Aris Eko Purnomo, S.Sos, MA, M.AP beserta jajaran, Kepala Puskesmas Wergu Wetan yang diwakili oleh Ibu Tatik Sugiarti, Amd. Keb., Penyuluh KB Kecamatan Kota Kudus, Bidan Desa, Perwakilan PKK Desa, Kader Posyandu, Guru PAUD, PPKBD, Kader Pembangunan Manusia (KPM), Pendamping Desa, serta Pendamping Lokal Desa.

Dalam sambutannya, Plt. Camat Kota Kudus, Bapak Aris Eko Purnomo, S.Sos, MA, M.AP menegaskan bahwa rembug stunting bukan sekadar kegiatan seremonial, melainkan forum evaluasi untuk mengukur efektivitas dan efisiensi program yang telah berjalan, baik dalam aspek pencegahan maupun penanganan. Ia menekankan pentingnya menggali akar penyebab stunting sebelum menentukan solusi yang tepat, serta mendorong adanya intervensi dari berbagai sektor.

“Program seperti Pemberian Makanan Tambahan (PMT) merupakan program mandatori, namun perlu didukung dengan data yang valid dan analisis yang tepat. Aplikasi e-HDW bukan hanya sekadar penyedia data, tetapi harus dimanfaatkan untuk menghasilkan program yang tepat sasaran. Hasil analisis tersebut kemudian dapat diusulkan dalam Musrenbang agar terakomodasi dalam APBDesa,” ujarnya.

Lebih lanjut, ia berharap upaya penanganan stunting tidak hanya menurunkan angka prevalensi, tetapi juga meningkatkan kualitas generasi mendatang. “Anak-anak hari ini adalah penentu nasib bangsa 25 hingga 30 tahun ke depan. Mereka harus dipersiapkan sejak dini agar mampu menghadapi masa depan dengan baik,” tambahnya.

Pada sesi pemaparan, Kader Pembangunan Manusia menyampaikan laporan berbasis e-HDW dan E-PPBGM yang menunjukkan terdapat 9 anak terindikasi stunting, 1 anak dengan gizi buruk, 4 anak gizi kurang, serta 1 ibu hamil dengan kondisi Kekurangan Energi Kronis (KEK). Seluruh kasus tersebut telah mendapatkan penanganan, meskipun di lapangan masih terdapat kendala, seperti adanya balita yang mengalami alergi terhadap susu formula, ada juga yang cacat bawaan dari lahir.

Sementara itu, Ibu Tatik Sugiarti Amd. Keb yang mewakili Kepala Puskesmas Wergu Wetan menekankan bahwa penanganan stunting harus dilakukan secara terkoordinasi dan melibatkan lintas sektor, mengingat penyebab stunting bersifat kompleks, mulai dari faktor lingkungan, sosial, hingga ekonomi.

Ia juga menyoroti peran penting kader sebagai pihak yang paling dekat dengan masyarakat, khususnya dalam mendampingi anak-anak yang terindikasi stunting. Dari sisi layanan kesehatan, Puskesmas Wergu Wetan telah menjalankan program seperti kelas “Si CANTIK” serta pemberian PMT yang diolah langsung oleh kader berdasarkan arahan nutrisionis terkait kandungan gizi seimbang.

Selain itu, bidan desa diminta untuk menjadwalkan pemeriksaan lanjutan bagi anak-anak yang terindikasi stunting dengan melibatkan nutrisionis dan dokter. Setiap sesi pemeriksaan dijadwalkan untuk tiga anak agar dapat dilakukan analisis mendalam, termasuk melalui screening anak dan wawancara orang tua. Namun demikian, kendala kehadiran orang tua masih kerap ditemui, terutama karena faktor kesibukan kerja.

“Jika terdapat kendala atau kekhawatiran untuk datang ke puskesmas, pemeriksaan dapat difasilitasi di PKD dengan koordinasi bersama bidan desa,” jelasnya.

Lebih jauh, ia menegaskan bahwa upaya penanganan stunting harus dimulai sejak pencegahan, bahkan sejak remaja putri memasuki masa awal menstruasi. Namun, seluruh upaya tersebut akan kurang optimal jika lingkungan anak masih terpapar asap rokok. Selain itu, pemenuhan gizi seimbang juga menjadi kunci utama, dengan anjuran konsumsi makanan yang mengandung buah, sayur, serta protein nabati dan hewani, bahkan disarankan mengonsumsi protein hewani ganda.

Ia juga menyoroti faktor ekonomi yang memengaruhi pemenuhan gizi keluarga. “Dalam kondisi ekonomi terbatas, satu butir telur sering kali harus dibagi untuk beberapa anggota keluarga. Di sinilah pentingnya kerja sama berbagai pihak agar kebutuhan gizi anak tetap terpenuhi,” pungkasnya.

Melalui kegiatan ini, diharapkan seluruh pemangku kepentingan dapat memperkuat sinergi dan komitmen bersama dalam upaya percepatan penurunan stunting di Desa Kramat, sehingga tercipta generasi yang sehat, cerdas, dan berkualitas di masa depan.

 

 

 

Info Lainnya